Film Surrogates yang dibintangi oleh Bruce Willis ini memang sudah lama dirilis, yaitu tahun 2009. Film ini menceritakan tentang kehidupan manusia di masa depan, dimana kegiatan sehari-hari manusia dilakukan atau 'diwakilkan' oleh sebuah robot bernama surrogates. Mengapa hal ini dilakukan? Manusia pada saat itu sangat takut untuk berinteraksi dan melakukan kegiatan di luar rumah, karena alasan keamanan. Resiko keamanan di luar rumah seperti kecelakaan, perampokan, dan lain sebagainya jauh lebih besar dibandingkan dengan tetap di dalam rumah, meskipun yang namanya takdir tidak ada yang bisa tahu. Dengan kuasa Allah swt bisa saja tiba-tiba rumahnya kebakaran sehingga manusia (operator) nya tidak selamat, sementara surrogatesnya yang berada di luar rumah malah selamat. (jadi fail dong tujuan utamanya -_-)
Namun disini saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai filmnya. Meskipun berdasarkan rating IMDb atau Rotten Tomatoes cenderung kurang bagus, namun cerita tentang teknologi surrogates tersebut cukup menarik untuk dibahas. Bagaimana cara kerja surrogates ini? Dalam film diceritakan bahwa surrogates bebas dan mudah dibeli oleh siapa saja. Bentuk fisik dari surrogates ini juga bisa dikustomisasi tergantung keinginan dari pemilik surrogates tersebut yang disebut dengan operator. Jadi sebagai operator, kita bebas mau surrogates yang ganteng/jelek/tinggi/pendek/gemuk/kurus dan sebagainya. Untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan diwakilkan oleh surrogates, operator cukup duduk bersandar setengah berbaring di kursi khusus dengan segala kelengkapan, dan menggunakan suatu alat semacam helm dan kacamata. Setelah proses sinkronisasi sebentar, surrogates sudah siap digunakan.
Gambar: Bruce Willis menggunakan surogates (source: http://www.gizmag.com/surrogate-robots-fact--fiction/14330/)
Voila! Sang operator hanya bersantai dirumah mengendalikan semuanya dengan pikiran, sementara fisiknya yang keluar adalah surrogates. Seorang Zhafir bisa bersantai di rumah, sedangkan yang berjalan ke kampus berwujud Jesse Eisenberg *random*. Tetapi ketika kuliah atau ujian, yang berpikir dan belajar tetaplah Zhafir yang sedang duduk di rumah dengan wujud Jesse Eisenberg. Kembali ke topik pembicaraan, sebenarnya teknologi surrogates ini merupakan implementasi dari Brain Computer Interface (BCI). BCI merupakan suatu teknologi interfacing atau pengendalian sebuah mesin dengan input langsung dari otak manusia. Untuk mengambil input yang berupa gelombang elektronik dari aktivitas neuron pada otak, digunakan elektroda. Setelah mendapatkan sinyal input, sinyal tersebut diproses oleh mesin untuk dikeluarkan menjadi sebuah output tertentu. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa manusia hanya tinggal berpikir untuk menggerakkan cursor di komputer, dan cursor tersebut pun bisa bergerak sendiri berdasarkan pikiran sang operator.
Gambar: BCI mengendalikan cursor (source: http://computer.howstuffworks.com/brain-computer-interface1.htm)
Penerapan teknologi BCI pun saat ini sudah sangat banyak, diantaranya seperti ilmuwan fisika terkemuka, Stephen Hawking yang sudah tidak bisa bicara, namun sekarang bicaranya menggunakan bantuan komputer dengan input dari pikirannya. Penerapan lainnya adalah pada teknologi penerbangan, dimana seorang pilot dapat menerbangkan pesawatnya hanya dengan memikirkannya saja. Bagi para gamers, yang menarik adalah pengendalian game menggunakan BCI, karena bisa terasa lebih nyata dibandingkan pengendalian dengan controller biasa.
Feasibility dari penerapan surrogates ini sebenarnya cukup tinggi. Perkembangan penelitian tentang BCI yang semakin berkembang saat ini juga menunjang untuk direalisasikannya surrogates. Namun ada hal penting yang harus kita pertimbangkan, yaitu manusia tetaplah manusia. Sebagai manusia sudah kodrat bagi kita untuk live as a human. Jika kita memindahkan aktivitas fisik kita ke sebuah robot, maka kita tidak akan merasakan bagaimana sebenarnya hidup sebagai manusia. Di film ini juga diceritakan hubungan antara Bruce Willis dan istrinya, yang lebih sering berinteraksi surrogatesnya dibandingkan dengan raga mereka sendiri, sehingga kehidupan rumah tangga mereka menjadi awkward.
Selain itu, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu lawan dari teknologi tersebut. Seperti yang diceritakan dalam film, ada senjata pemusnah yang bisa merusak surrogates dengan tingkat kerusakan yang parah, mulai dari optik mata yang hancur sampai mikrokontroler pengendali yang hangus. Dan hal ini bisa berdampak pada operatornya yang langsung mati setelah surrogatesnya terkena serangan senjata tersebut. Terlepas dari mungkin atau tidaknya hal itu terjadi, kita harus tetap aware karena sebuah mesin atau komputer memang selalu memiliki celah untuk diserang. Meskipun teknologi keamanan semakin canggih, teknologi perusakanya juga berbanding lurus dan terus berkembang. Oleh karena itu, sebaiknya teknologi surrogates ini tidak direalisasikan. Lebih baik jika teknologi interfacing BCI tersebut digunakan untuk mempermudah kerja manusia dalam mengoperasikan mesin, atau membantu manusia yang memiliki kecacatan untuk bisa hidup normal kembali, bukan dengan menggantikan fisik manusia secara keseluruhan. Don't forget, we are a human. We have to live as a human!
Artikel ini dibuat sebagai review film Surrogates (2009) untuk tugas kelas Topik Khusus Komputer 1, mengenai teknologi Brain Computer Interface.